Siapa menduga Ibu Tatik sudah menderita kanker mulut rahim sampai stadium empat. Padahal sebelumnya ia tidak pernah mengeluh apa-apa. Sekarang dampaknya jadi seperti ini. Mungkin karena tidak pernah memeriksakan diri itulah yang menyebabkan ia terlambat mengetahuinya. Sayang ya!
Memang, kanker mulut rahim biasanya diketahui terlambat. Kasus seperti Ibu Tatik banyak juga terjadi di Malang. Sedikitnya 1.300 warga di Kabupaten Malang, Jatim kini terjangkit virus berbahaya berupa penyakit kanker mulut rahim yang merupakan penyebab kematian nomor tiga di Indonesia.
Kondisi itu diungkapkan Ketua Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna (PKTP) Kabupaten Malang, Ny Tutik saat mendampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, dr Tuti Harijanto MARS kepada wartawan di Malang, Jumat (27/9).
“Angka tersebut ditemukan Badan Penelitian Kesehatan (Bapelkes) Dinkes Kabupaten Malang setelah melakukan pendataan di seluruh kecamatan. Umumnya penyakit ini sulit dideteksi gejala awalnya dan penyakit mematikan ini sekarang belum ditemuakn virus penyebabnya, termasuk obatnya,” katanya.
Sampai sejuah ini, katanya, Dinas Kesehatan hanya melakukan kampanye dengan pendekatan antisipasi, sebab yang dapat dilakukan saat ini adalah upaya pencegahan. Masyarakat harus sering berobat secara intensif.
Selain memberikan informasi pencegahan untuk meminimalisir angka penderita kanker mulut rahim itu, dalam waktu dekat Dinkes Kabupaten Malang akan melakukan kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya yang dibantu tenaga medis dari RS Dr Sutomo Surabaya dan Yayasan Kanker Wisnu Wardhana Malang untuk
melakukan penyuluhan dan kampanye pencegahan.
Ia juga memaparkan bahwa langkah yang dilakukan para wanita untuk deteksi dini bila mengalami gejala-gejala awal penyakit ini misalnya dengan cara melihat cairan di luar mulut rahim lalu diperiksakan di laboratorium apakah positif mengandung virus kanker atau sebaliknya.
“Minimal langkah itu diakukan selain untuk pencegahan dini juga menghindari serangan virus kanker tersebut, karena sangat membahayakan. Bila penyakit ini sampai kronis atau stadium tiga sampai empat jarang dapat diobati, walaupun bisa dilakukan operasi. Sebaliknya bila masih dalam stadium satu sampai dua masih bisa dicegah,” ujarnya. [***/Ant]
sumber: Astaga.com



![Keikos.Biz [women stuffs]](/wp-content/themes/keikos/images/keikos_logo_1.gif)


Leave a Comment