Percuma saja periksa payudara sendiri untuk menemukan benjolan, sebab tidak ada bedanya. Kalau memang akan kena kanker payudara, wanita yang memeriksa maupun yang tidak memeriksa payudara sendiri, akan sama saja kemungkinan kena kanker payudara.
Begitulah yang dikatakan dokter AS yang melakukan penelitian terhadap masalah kanker payudara. Meskipun wanita rutin melakukan pemeriksaan sendiri terhadap kanker payudara, tetapi hal itu tidak mengurangi kemungkinan mereka menderita kanker yang mematikan itu. Begitu kata mereka.
Hal seperti ini diketahui peneliti setelah melakukan penelitian 11 tahun terhadap 266.064 pekerja pabrik di Shanghai, Cina. Para dokter kemudian menyimpulkan bahwa tidak banyak perbedaannya antara wanita yang diajari memeriksa payudara mereka sendiri maupun dengan yang tidak.
Jumlah wanita yang meninggal karena kanker payudara tetap tidak terpengaruh menurut penelitian yang dilakukan Dr David Thomas dari Pusat Riset Kanker Fred Hutchinson di Seattle dan rekan-rekannya.
Para peneliti secara random membagi para wanita menjadi dua kelompok. Satu kelmpok diajari bagaimana melakukan pemeriksaan kanker, mendapat peringatan dan supervisi. Kelompok lainnya samasekali tidak diberi informasi mengenai kanker payudara.
Setelah 11 tahun mereka menemukan tidak ada perbedaan antara dua kelompok tersebut dilihat dari angka kematian karena kanker payudara.
Penemuan ini yang terdapat dalam jurnal Journal of the National Cancer Institute juga menunjukkan sedikit bukti bahwa kanker bisa dideteksi sejak awal oleh kelompok yang diajari cara memeriksa kanker payudara sendiri.
Satu-satunya perbedaan antara di antara dua kelompok itu adalah: Bagi yang diajari, mereka secara rutin rajin memeriksa payudara mereka untuk menemukan benjolan. Sedangkan wanita yang tidak diajari tidak melakukannya. Akibatnya, jumlah wanita yang melakukan pemeriksaan biopsi semakin meningkat dan secara potensial justru menambah biaya
menjaga kesehatan yang tidak perlu, kata peneliti.
Mengingat hal tersebut, para peneliti dari Sekolah Kedokteran Universitas North Carolina merekomendasi agar penelitian dipakai sebagai acuan perlunya perubahan dalam praktek-praktek kedokteran yang sekarang ini diterapkan.
Misalnya, mereka menyarankan agar dokter meluangkan waktu lebih lama untuk mendidik wanita mengenai gejala-gejala kanker dan memperbanyak waktu mereka berada di klinik pemeriksaan kanker payudara karena memeriksa kanker payudara sendiri sulit dipelajari dan sukar untuk terus menerus melakukannya.
Menurut penulis, penelitian menunjukkan bahwa di negara berkembang, dimana pemeriksaan skrining mamografik tidak tersedia, mengajari wanita untuk memeriksa kanker sendiri bukan pemakaian yang baik karena kurangnya dana yang tersedia untuk pelayanan pencegahan kanker.
Sumber: SatuNet



![Keikos.Biz [women stuffs]](/wp-content/themes/keikos/images/keikos_logo_1.gif)


Leave a Comment